Cerpen Doni & Sinta



PESAN TERAKHIR
Pagi itu matahari bersinar terang menerangi bumi Allah . Aku duduk di taman baca sekolah ku, tempatku menuntut ilmu , bercanda gurau dengan teman-teman sampai menemukan dia .
Awalnya aku hanya sebatas kakak adik alias kakak kelas vs adik kelas . saat itu dia kelas IX dan aku kelas VII . Aku akrab di sapa Sinta dan ia akrab disapa Doni oleh teman –temannya . Kami selalu bercerita di bawah pohon tepat di taman baca sekolah . Aku yang saat itu masih sebagai adik kelas sering menanyakan masalah pelajaran pada Doni baik itu ilmu social maupun ilmu alam . Entah kenapa pada saat kami bercerita ia menanyakan sakitku seolah ia sudah tau semuanya , karena memang aku sering keluar – masuk Rumah sakit .
“ sin kata teman kamu ada sakit ya ??” (kata Doni dengan serius )
dengan muka ngeles aku menjawab  “ sok tau kamu . Teman-teman aku tuh suka bercanda “
“tapi sepertinya kali ini mereka serius “ (kata Doni sekali lagi )
Karena tak ingin membahas masalah sakit yang ku alami akupun membelokkan cerita . . .
Bel pelajaran berbunyi , seluruh siswa berbegas memasuki ruang kelas masing-masing
“ kak udah bel , aku masuk kelas dulu ya “ (kataku)
“ya udah kamu baik-baik ya “ (kata Doni)
            Akupun beranjak pergi meninggalkan Doni yang masih terdiam duduk di taman baca karena ruang kelasnya dekat dari tempat ia duduk saat itu
2 minggu kemudian *
            Pagi itu sekolah ramai memperbicangkan kematian kepala kantin yang ada di sekolahku . Aku yang masih berjalan menuju ruang kelas tiba-tiba di tarik oleh Dina
“Eh sin , tau nggak pak kantin meninggal “ (kata Dina dengan napas tak beraturan)
“ Hah ? serius ? Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun . Kapan ?” (kataku dengan serius)
“ Tadi malam kata bu Kantin , makanya hari ini kantin belakang sekolah tutup “
“kalau begitu sebentar malam kita Ta’ziah aja ke rumah beliau . Bagaimana ??” (kataku)
“ ide yang bagus . ok aku beritahu yang lain ya “ (jawab lulu)
            Setelah perbincangan ditaman baca dua minggu yang lalu aku tak pernah lagi bertemu dengan Doni , karena saat itu handphone ku lagi di service  Aku berniat memberitahu kabar duka ini pada Doni secara langsug hingga akhirnya aku menuju ke kelasnya dan ternyata Doni sudah seminggu nggak masuk sekolah . Ia telah izin ke pihak sekolah karena ada keperluan mendesak hingga ia berkunjung ke rumah tantenya yang ada di Gorontalo.  kata salah seorang teman kelasnya .
            Sebenarnya Doni bukan asli Sulawesi melainkan dari pulau Jawa hanya saja Doni di bawah ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan agar ia bisa mandiri di wilayah orang , jauh dari keluarganya . bermula dari handphone yang kutitip di tempat service , akupun meminjam hp Dina untuk menghubungi Doni dan ternyata ia sudah mendengar kabar kematian Almarhum .
“ ia ini aku lagi packing buat balik Makassar , aku juga sudah pesan tiket , palingan sebentar sore aku sampai. Maaf karena pas berangkat ke Gorontalo aku nggak ngasih kabar ke kamu alasannya tuh biar kamu nyariin aku , hehe “ (kata Doni yang berusaha membuat ku tertawa)
“Ya udah aku tungguin ya kak … “ (jawabku yang polos pada Doni)
            Malam yag dilahap angin kencang , suara ulama menggema masyarakat , aku terdiam merenung duduk di kursi terdepan tepat aku duduk di samping Doni yang sudah balik dari Gorontalo tadi sore . Suasana yang ramai membuat percakapan aku dan Doni terganggu , hingga akhirnya Doni membisik ke telingaku untuk bercakap melalui via dm instagram . Malam itu pertama kalinya aku mengenalnya lebih dekat dari hari sebelumnya .
Malam kedua aku melangkahkan kaki menuju rumah duka,  di depan pagar rumah beliau aku bertemu Doni yang sedang duduk diatas motor ,  terlihat terburu-buru dan menyuruhkan segera naik di atas motor berharap agar aku menemaninya mengirim barang kerumah wali kelasnya yang letaknya tak jauh dari rumah duka .
Di tengah perjalanan (diatas motor) ia terlihat bahagia , wajahnya seperti tak ada beban . Tinggal dua bulan Doni bakalan mengikuti UN itu artinya ia bakalan ninggalin Makassar dan kembali ke jawa melanjutkan pendidikan di kampug halamannya , membuatku sedih karena harus berpisah dengan Doni .
“kak jangan ninggalin aku yaa ..”
”Hah ??”  (dengan tanda Tanya di hatinya)
“ia maksudnya jangan lupain aku , ia kan kakak bakalan ninggalin kota ini dan akan pulang ke kampung halaman kakak “
“kan masih ada beberpa bulan lagi di sini , masih lama kok “
“lama ?? waktu berjalan dengan cepat kak tanpa kita sadari “
“ ya..ya.. kamu takut ya kakak lupa ?? nggak bakalan kok “
            Sesampai di kediaman duka aku segera mengambil kursi buat duduk mendengarkan penceramah , Doni pun mengambil kursi lalu duduk di sampingku .
“ benar yang dikatakan Dina ?? “ (Tanya Doni padaku)
“yang mana ? kan banyak tuh yang tuh yang aku cerita ke Dina “ (jawabku)
            Keesokan harinya ia menyatakan perasaannya padaku , akupun tak menyangka hal itu . Tepat setelah mengatakan hal tersebut aku melangkahkan kaki menuju masjid dan sepulang dari sholat berjama’ah aku menjawab perasaanya itu ‘Aku juga mencintainya’
***
            Setelah Ujian Nasional di sekolah Doni segera berangkat kampung halaman. Ternyata di sana pertemuan akhir aku dengan Doni , ia bercerita bahwa 2 hari lagi ia bakalan pulang ke Jawa dan sementara packing buat keberangkatannya . Awalnya sedih kehilangan dia yang selama ini selalu ada di sekitar kita namun telah pergi, itu sama saja kita menyimpan barang rusak di lemari , tinggal kenangan yang akan teringat . Namun ketika ia tiba di Bandara ia sempat Video call untuk pamit . Ia terlihat sedih , berat hati meninggalkan kota ini namun yang namanya cita-cita mesti di kejar waulupun sampai ke negeri orang .
Pada jam 07.00 WIB Doni kabarin aku kalau dia sudah sampai di Bandara Juanda . Dia kabarin aku kalau aku harus terus berobat sampai sembuh beneran karena faktor pendidikan kami membuat komitmen untuk tidak saling komunikasi dan focus pada pendidikan masing-masing .  Dan rasanya dialog itu yang bakan aku rindukan selama 7 tahun tanpa kabar darinya . Hingga saat ini kami benar-benar putus komunikasi . Dan satu pesan yang aku ingat setelah percakapan tersebut ia berkata “ Jaga mata jaga hati , aku akan selalu untukmu , aku pergi demi masa depan kita , kamu baik-baik ya . tunggu aku tujuh tahun kemudian” .
Hingga kami benar-benar focus mengejar Impian masing-masing karena kami yakin impian aku dan Doni akan sampai pada tujuan layaknya sungai yang mempunyai hilir .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sentral Intensitas Pandemi

Bertemu Budak Elok Tampan Terbawa

BERGEGASLAH MENUJU KEBAHAGIAAN